Oleh : Teguh Sarwono
09-Mei-2008, 12:52:05 WIB – [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia – Salah satu realitas hidup manusia sebagai makhluk sosial adalah adanya organisasi. Organisasi dapat berupa sebuah perusahaan, sekolah, organisasi sosial kemasyarakatan dan banyak lagi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa organisasai merupakan kesatuan atau susunan yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) di dalam perkumpulan untuk suatu tujuan tertentu; suatu kelompok kerja sama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Dari pengertian tersebut diatas, dapat dilihat beberapa unsur yang membentuk suatu organisasi.
Unsur pertama adalah orang. Orang dalam organisasi menjadi unsur pembentuk organisasi yang memiliki peranan sangat penting. Orang-orang ini dengan segala potensi dan perbedaan latar belakang mewujudkan suatu sinergi untuk membuat sebuah organisasi dapat berjalan dan hidup.
Unsur yang kedua adalah adanya kesatuan. Kesatuan yang dimaksud merupakan kesatuan ide, gagasan, cita-cita atau tujuan yang menjadi motivasi dasar bagi anggota organisasi untuk berkumpul dan bekerja sama. Kesatuan menjadi sangat penting dalam sebuah organisasi karena tanpa kesatuan organsiasi tidak akan terwujud.
Unsur ketiga adalah tujuan. Tujuan merupakan sesuatu yang hendak dicapai oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi. Tujuan menjadi unsur pemersatu yang menjadi titik tolak serta arah gerak organisasi.
Unsur ke empat adalah adanya kerja sama. Unsur menjadi salah satu ciri khas dari sebuah organisasi. Unsur yang ke lima adalah adanya suatu sistem, aturan, pola atau tata hidup bersama yang disepakati untuk dilaksanakan oleh setiap orang yang menjadi bagian dari organisasi. Hal ini menandakan adanya suatu pembagian kerja yang tetap, yang mencerminkan peran, tugas dan tanggung jawab dari setiap orang dalam organisasi.
Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan panjang lebar mengenai organisasi, melainkan lebih pada sebuah refleksi untuk melihat peran dan tindakan seseorang dalam sebuah organisasi. Maka titik berat tulisan ini adalah pada unsur orang yang membentuk sebuah organisasi. Secara khusus refleksi ini akan mengajak kita melihat orang macam apakah kita dalam organisasi yang kita ikuti; bagaimana sikap dan tindakan kita dan apa pengaruhnya terhadap organisasi.
Merujuk pada apa yang pernah dikatakan oleh direktur harian umum Kedaulatan Rakyat dalam sebuah seminar beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah organisasi paling tidak ditemukan tiga tipe orang. Pengelompokan itu didasarkan pada motivasi yang mendasari sikap dan tindakannya dalam sebuah organisasi. Masing-masing tipe memiliki karakteristik dan pengaruh yang besar terhadap organisasi. Setiap tipe memberikan gambaran mengenai orientasi dan motivasi dasar seseorang dalam melakukan aktifitas dalam organisasi. Tipe-tipe tersebut berkaitan dengan “makan”. Yang dimaksud tentu saja bukan bagaimana cara makan seseorang dalam organisasi, tetapi lebih pada bagaimana sikap dan tindakan seseorang dalam organisasi..
Tipe yang pertama adalah “orang yang mencari makan di dalam organisasi”. Bagi orang semacam ini, yang penting bagi dirinya adalah bagaimana ia mendapatkan sesuatu dari organisasi sehingga ia dapat memenuhi kebutuhan hidup atau keinginannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa motivasi utama orang semacam ini dalam melaksanakan aktivitas dalam organisasi adalah untuk mendapatkan upah. Upah menjadi motivasi utama dan orientasinya dalam ia bekerja melaksanakan tugas dan tanggungjawab. Ia tidak perlu berpikir apakah tugas dan tanggungjawabnya terselesaikan dengan baik atau tidak, karena bagi dia yang penting adalah upah yang ia dapatkan dari organisasi. Orang semacam ini tidak banyak memberi kontribusi bagi perkembangan dan kemajuan organisasi. Ia tidak pernah mau berpikir tentang bagaimana organisasi mendapatkan sarana maupun fasilitas untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Ia lebih bersikap reaktif, bahkan cenderung pasif, tidak memiliki inisiatif untuk melakukan suatu tindakan apalagi penemuan-penemuan langkah atau kebijakan yang mendukung perkembangan organisasi. Berdasarkan pengamatan umum, dalam sebuah organisasi hampir delapan puluh persen orangnya termasuk dalam kelompok ini.
Tipe kedua adalah “orang yang mencarikan makan untuk organisasi”. Bagi orang semacam ini, segala bentuk tindakannya dalam organisasi hanya ia arahkan demi perkembangan dan kemajuan organisasi. Ia selalu berusaha menemukan langkah-langkah baru yang efektif dan efisien supaya organisasinya sungguh maju dan berkembang. Ia selalu bersikap proaktif, inovatif, kreatif, kritis sekaligus agresif. Ia tidak pernah mau diam dan berhenti berusaha asalkan demi kemajuan organisasi. Sebuah organisasi akan sangat beruntung jika memiliki paling tidak lima belas persen orang semacam ini di dalamnya, karena mereka sungguh menjadi motor penggerak dan pengarah hidup organisasi, yang mampu mempengaruhi delapan puluh persen orang lainnya dalam organisasi. Namun sayangnya tidak semua organisasi memiliki orang-orang dengan kualitas militan ini.
Tipe ketiga adalah “orang yang memakan organisasi”. Celakalah sebuah organisasi jika orang-orang semacam ini ada di dalamnya. Karena meskipun jumlahnya sangat sedikit, lima persen misalnya, orang semacam ini akan menjadi parasit yang sedikit demi sedikit menggerogoti organisasi, mengeroposinya dari dalam dan pelan-pelan meruntuhkannya. Bagi orang semacam ini, yang menjadi semboyan adalah “apa yang dapat saya ambil dari organisasi, bagaimana saya mendapatkan keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya dari organisasi”. Ia sama sekali tidak berpikir soal kerugian yang dialami organisasi akibat sikap dan tindakannya. Mereka inilah yang tergolong dalam kelompok koruptor – dan di dalam Negara kita tercinta ini, kelompok ini menjadi penyebab keterpurukan yang tiada berakhir.
Yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah, bagaimana organisasi harus mengambil langkah berkaitan dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Berkaitan dengan ini, maka segala bentuk pembinaan mental-spiritual menjadi sangatlah penting. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai macam seminar dan lokakarya atau juga dengan bentuk-bentuk kebijakan yang seefektif mungkin membangun sikap mental orang-orang dalam organisasi.
Perhatian dan penghargaan dalam segala macam bentuknya diharapkan dapat membantu orang-orang dalam organisasi untuk memiliki ‘sense of belonging’, yang cukup besar sehingga orang dalam organisasi tidak melulu berpikir mengenai kepentingannya melainkan kepentingan organisasi.
Organisasi memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menumbuhkan dan menguatkan kesadaran dalam diri setiap anggotanya supaya mereka memiliki semboyan “apa dan sebanyak apa yang dapat saya berikan untuk organisasi’, bukan sebaliknya, ‘apa dan seberapa banyak yang dapat saya ambil dari organisasi’.
Terakhir, yang menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing, adalah, “orang macam apakah saya dalam organisasi yang saya ikuti?”.
Selamat merenung!
Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com
0 Responses to “Tiga Tipe Orang dalam Organisasi”