19
Mar
10

Kerendahan hati dalam Dunia Bisnis

Setelah sukses Luar biasa dengan bukunya yang pertama built to last, peneliti manajemen Jim Collins kembali menggemparkan dunia bisnis dengan bukunya, Good to Great. Jika sebagai pemimpin anda hanya punya waktu membaca 2 buku bisnis, bacalah kedua buku ini.

Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki 11 perusahaan global dari berbagai industri untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomer satu di dunia? Sedang buku kedua didasari oleh pertanyaan : apa rahasia perusahaan yang “cukup baik” menjadi perusahaan yang “sangat hebat”? itu sebabnya buku kedua menurut Collins seharusnya menjadi prequel bukan sequel dari buku pertama.

Ada beberapa hal yang menarik dari hasil penelitian Collins dan 20 orang asistennya selama 5 tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku Good to Great. Dari awal Collins sudah berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memperdulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan. Ia sadar bahwa kepemimpinan memang cenderung diromantisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah factor yang krusial dalam menentukan suksesnya perusahaan. Namun yang lebih menarik adalah temuan berikut.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformative dalam kinerja dan mampu mempertahankan terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama : Personal Humility dan Profesional Will. Kedua ciri ini menjadi paradox.

Pemimpin yang disebut Collins sebagai LeveL 5 Leaders ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, bahkan cenderung pemalu. Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila ada keberhasilan mereka selalu berusaha memberi kredit kepada orang lain atau hal lain diluar diri mereka. Apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam. Ambisi mereka adalah untuk kelanggengan perusahaan, bukan penggemukan dan kepentingan diri.

Meskipun rendah hati, mereka juga dikenal sangat konsisten, tangguh, dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Mereka membangun prinsip yang idealis dan mentaatinya dengan militan. Pendek kata, pemalu tapi pemberani, rendah hati namun militan.

Ketika saya membaca buku Jim Collins, mau tak mau saya tertegun dengan temuan riset tersebut. Betapa tidak. Pemimpin bisnis sekuler mengadopsi kerendahan hati yang adalah ide dari kesederhaan sejati & kebenaran yg dianggap usang dan tidak relevan, sementara banyak pemimpin mengaku yg merasa religus malah meniggalkannya.

Namun itu tidak berarti Collins mengerti dengan tuntas apa arti kerendahan hati. Karena konsep tentang kerendahan hati sangat erat terkait dengan pengenalan akan eksistensi Sang Khalik.

Apa arti sesungguhnya kerendahan hati? Kerendahan hati tidak identik dengan inferioritas atau rasa minder. Charles Spurgeon mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “to make a right estimate of oneself”. Kerendahan hati adalah mengerti posisi diri kita dengan tepat dihadapan sang Khalik.

Seorang yang rendah hati bukanlah seorang yang berkata dia tidak memiliki kemampuan apapun dan tidak mampu melakukan segala sesuatu (Karena itu berarti menghina Tuhan, pencipta-Nya), Seorang yang rendah hati adalah seorang yang mengatakan segala kemampuannya berasal dari Tuhan dan bahwa ia mampu melakukan segala sesuatu karena Tuhan yang memampukannya. Tanpa Tuhan ia sama sekali bukan apa-apa. Pernyaataan tersebut terkesan naïve dan munafik, tapi nyatanya musuh terbesar kerendahan hati adalah ke-aku-an pada diri sendiri dan menjadikannya rasionalis.

Buku Klasik karya Andrew Murray yang berjudul Humility memberi definisi rendah hati sebagai berikut: Humility is sense of entire nothingness,which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all, dengan nada yang sama tokoh reformed di abad 14,dengan Lugas mengatakan God Create the world out of nothing, and as long as we are nothing, He can make something out of us. Kalau boleh dielaborasi yang dikatakan kedua pemikir itu kira-kira begini: manusia itu pada dasarnya nothing, lalu dalam kondisi nothingness tersebut diubah dari nothing menjadi something oleh Tuhan yang adalah everything. Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi something, maka Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari something menjadi everything.

Kerendahan hati memang unik. Kalau kita klaim kita memilikinya, maka justru kita tidak memilikinya. Saat kita merasa kita orang yang rendah hati, saat itulah kita kehilangan kerendahan hati kita. Inilah paradox kerendahan hati.

Namun satu-satunya bukti kesungguhan kerendahan hati kita adalah kerendahan hati kita dihadapan sesama manusia.

“Kerendahan hati adalah satu-satunya karakteristik yg kita miliki tanpa kita merasa memilikinya”


0 Responses to “Kerendahan hati dalam Dunia Bisnis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.