19
Mar
10

Kerendahan hati dalam Dunia Bisnis

Setelah sukses Luar biasa dengan bukunya yang pertama built to last, peneliti manajemen Jim Collins kembali menggemparkan dunia bisnis dengan bukunya, Good to Great. Jika sebagai pemimpin anda hanya punya waktu membaca 2 buku bisnis, bacalah kedua buku ini.

Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki 11 perusahaan global dari berbagai industri untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomer satu di dunia? Sedang buku kedua didasari oleh pertanyaan : apa rahasia perusahaan yang “cukup baik” menjadi perusahaan yang “sangat hebat”? itu sebabnya buku kedua menurut Collins seharusnya menjadi prequel bukan sequel dari buku pertama.

Ada beberapa hal yang menarik dari hasil penelitian Collins dan 20 orang asistennya selama 5 tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku Good to Great. Dari awal Collins sudah berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memperdulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan. Ia sadar bahwa kepemimpinan memang cenderung diromantisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah factor yang krusial dalam menentukan suksesnya perusahaan. Namun yang lebih menarik adalah temuan berikut.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformative dalam kinerja dan mampu mempertahankan terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama : Personal Humility dan Profesional Will. Kedua ciri ini menjadi paradox.

Pemimpin yang disebut Collins sebagai LeveL 5 Leaders ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, bahkan cenderung pemalu. Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila ada keberhasilan mereka selalu berusaha memberi kredit kepada orang lain atau hal lain diluar diri mereka. Apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam. Ambisi mereka adalah untuk kelanggengan perusahaan, bukan penggemukan dan kepentingan diri.

Meskipun rendah hati, mereka juga dikenal sangat konsisten, tangguh, dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Mereka membangun prinsip yang idealis dan mentaatinya dengan militan. Pendek kata, pemalu tapi pemberani, rendah hati namun militan.

Ketika saya membaca buku Jim Collins, mau tak mau saya tertegun dengan temuan riset tersebut. Betapa tidak. Pemimpin bisnis sekuler mengadopsi kerendahan hati yang adalah ide dari kesederhaan sejati & kebenaran yg dianggap usang dan tidak relevan, sementara banyak pemimpin mengaku yg merasa religus malah meniggalkannya.

Namun itu tidak berarti Collins mengerti dengan tuntas apa arti kerendahan hati. Karena konsep tentang kerendahan hati sangat erat terkait dengan pengenalan akan eksistensi Sang Khalik.

Apa arti sesungguhnya kerendahan hati? Kerendahan hati tidak identik dengan inferioritas atau rasa minder. Charles Spurgeon mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “to make a right estimate of oneself”. Kerendahan hati adalah mengerti posisi diri kita dengan tepat dihadapan sang Khalik.

Seorang yang rendah hati bukanlah seorang yang berkata dia tidak memiliki kemampuan apapun dan tidak mampu melakukan segala sesuatu (Karena itu berarti menghina Tuhan, pencipta-Nya), Seorang yang rendah hati adalah seorang yang mengatakan segala kemampuannya berasal dari Tuhan dan bahwa ia mampu melakukan segala sesuatu karena Tuhan yang memampukannya. Tanpa Tuhan ia sama sekali bukan apa-apa. Pernyaataan tersebut terkesan naïve dan munafik, tapi nyatanya musuh terbesar kerendahan hati adalah ke-aku-an pada diri sendiri dan menjadikannya rasionalis.

Buku Klasik karya Andrew Murray yang berjudul Humility memberi definisi rendah hati sebagai berikut: Humility is sense of entire nothingness,which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all, dengan nada yang sama tokoh reformed di abad 14,dengan Lugas mengatakan God Create the world out of nothing, and as long as we are nothing, He can make something out of us. Kalau boleh dielaborasi yang dikatakan kedua pemikir itu kira-kira begini: manusia itu pada dasarnya nothing, lalu dalam kondisi nothingness tersebut diubah dari nothing menjadi something oleh Tuhan yang adalah everything. Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi something, maka Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari something menjadi everything.

Kerendahan hati memang unik. Kalau kita klaim kita memilikinya, maka justru kita tidak memilikinya. Saat kita merasa kita orang yang rendah hati, saat itulah kita kehilangan kerendahan hati kita. Inilah paradox kerendahan hati.

Namun satu-satunya bukti kesungguhan kerendahan hati kita adalah kerendahan hati kita dihadapan sesama manusia.

“Kerendahan hati adalah satu-satunya karakteristik yg kita miliki tanpa kita merasa memilikinya”

19
Mar
10

Tentang Cinta ~Eros, Filia & Agape~

Sembari membelai lembut rambut putrinya yang masih sesengukan, sang bunda menjelaskan dengan sabar.

“Anakku, cinta itu ada 3 macam. Ada eros, filia, dan agape. Cinta yang membuat hatimu tergores saat ini adalah eros. Eros adalah cinta yang butuh dipuaskan. Kebanyakan hubungan cinta dimulai dengan ini. Saat kau begitu merindukan kehadirannya dan menjadi demikian bahagia bertemu dengannya. Saat mendengar suaranya, memandang wajahnya membuatmu terbuai. Saat kau merasa begitu indah dengan cintanya yang berlimpah. Dan disaat lain kau begitu terluka saat kau merasa ditolak, tidak diperhatikan. Disaat lain lagi kau merasa hancur lebur saat kau sadar bahwa ucapannya untuk –fight for you no matter what– atau –choose you over anything else– hanya omong kosong. Atau saat janjinya tidak terbukti. Kau menjadi terluka dan menangis, tangis yang tidak mampu kau hentikan, walaupun disaat yang sama kau sangat membencinya karena telah membuatmu terluka.

Anakku, eros adalah cinta romantis, di mana gairah dan fantasi sering mengambil alih hidup dan kepribadian dari mereka yang terlibat. Seakan-akan kehidupanmu hanya terpusat pada sang kekasih. Istilah psikologinya obsesive-compulsive-disorder. Kau jadi mengharapkan kisah seperti di film dan novel cinta. Demikian pula semua orang yang tengah berada dalam cinta ini, siapa yang tidak mengharapkan and then they live happily ever after. Tapi eros bukanlah cinta yang kekal, karena cinta ini tumbuh dari emosi dan keadaan. Belajarlah dari luka yang ada sekarang karena agar bertahan cinta harus meningkat ke tahap berikutnya.

Filia anakku, adalah cinta persahatan, saling memberi dan menerima, berkomunikasi, bekerja sama. Ketika dua orang menikah cinta mereka perlu meningkat menjadi filia. Dengan cinta ini mereka akan menemukan kesatuan dan kekompakan mereka dalam membangun keluarga. Keduanya yang menjadi satu ini akan bekerja sama untuk sesuatu yang lebih besar dari mereka berdua. Win-win solution. Dalam eros masing-masing mencari pemenuhan dan pemuasan diri sendiri, dalam filia mereka berdua mencari pemenuhan bersama.

Agape adalah cinta yang memberi diri, cinta anugrah, cinta yang tetap mencintai bahkan ketika pasangannya sudah tidak pantas untuk dicintai. Inilah tingkat cinta tertinggi anakku. Cinta ini kita teladani dari cinta Tuhan pada umatNya. Inilah tindakan pribadi dari komitmen. Cinta tak bersyarat. Cinta yang kekal yang akan mempertahankan suatu pernikahan apapun yang terjadi, dalam susah dan senang, dalam sehat dan sakit.

Jika tiba saatnya bagimu membuka hati nanti pada seseorang, tanyakanlah pada dirimu, dapatkah kau merasa bahagia jika orang itu tidak pernah berubah? Apakah kau benar-benar mencintainya atau mencintai imajinasimu tentang dia? Dapatkah kau bahagia jika dia berubah menuju perubahan yang tidak kau inginkan? Cinta yang berakar pada komitmen akan bertahan melalui tekanan dan penderitaan dari setiap kekecewaan hidup. Cinta tertinggi adalah cinta yang memberikan segalanya dan tidak mengharapkan apa-apa.

Menangislah malam ini putriku, tapi ingatlah “segala sesuatu dapat kita tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita (Flp 4:13)”. Lukamu pasti mereda dan tersembuhkan. Janganlah patah harapan karena segala sesuatu indah pada waktunya. “

Dikecupnya kening putri tersayangnya. “Tidurlah dengan damai sayangku.”

Sumber: dari berbagai sumber ,

dear siskaprimaningrum, trims untuk inspirasinya…

05
Feb
10

Dalam suatu  kuliah, seorang dosen  melemparkan pertanyaan pada murid2nya..

“Keaneka ragaman suku&budaya Indonesia merupakan ssuatu yang dilematis jika tidak dikelola dgn baik. Bagaimana jika ada yang mengatakan keberagaman itu menguntungkan  tetapi sekaligus merugikan?”
**************************************
Menurut pendapat aku jika ada yang mengatakan begitu kemungkinan yang mengatakan itu sedang frustasi atau sedang ingin menjebak orang ..hehehe

Keberagaman suku&budaya adalah suatu hal yang ada sejak semula (jauh sebelum terbuntuknya Republik Indonesia),secara natural/alami di bumi indonesia,tanpa rekayasa sintesis apalagi politis.
Keberagaman suku&budaya dapat dikatakan seperti bonus dari Pemilik Alam Semesta  kepada bumi indonesia,sebab sangat sulit untuk kita temukan keberagaman bahasa,adat-istiadat,tradisi, dinegara lain seperti yg ada dinegeri ini.

Keberagaman Suku&Budaya tercipta bisa saja dipengaruhi banyak faktor seperti geografi,pengaruh peradaban negeri lain,dll. Tetapi tentu itu tercipta tentu untuk mendatangkan kebaikan atau menjadi norma dasar/panduan hidup sosial bagi penganutnya.
Dalam point itu brarti seharusnya tidak ada kata mendatangkan kerugian.

Bicara keberagaman suku&budaya di negri ini,tidak bisa dilepaskan dari para pengelola negara.
Para pengolala negara seharusnya menyadari keberagaman suku&budaya sebagi sebuah resource besar yang seharusnya menjadi salah satu fokus perhatian untuk dioptimalkan dengan baik&benar, yang akan memberikan banyak output2 yang significant,salah satunya adalah devisa negara.

Para pelajar indonesia yang studi di jerman sering kali di undang oleh berbagai kelompok pecinta seni bahkan pemerintah jerman untuk menampilkan tari2an,lagu2 dari daerah2 di indonesia, dan setiap pementasan mereka mendapat bayaran yg cukup bagus, padahal mereka bukanlah profesional,hanyalah anak2 kuliah yg sering kumpul2 di KBRI.

Itu adalah salah satu contoh kecil betapa pemahaman yang benar terhadap keberagaman suku&budaya bisa mendatangkan keuntungan.

DaLam bahasa ekonomi sebaiknya keberagaman suku&budaya dapat dijadikan industri yang tidak hanya menguntungkan negara secara umum tapi para penganut keberagaman itu sendiri. Mengapa para penganutnya bisa di untungkan? Tentu saja, sbb bila ingin menjadikan suku&budaya sebagai sebuah industri haruslah dilakukan pembangunan sarana,prasana dan infrastruktur yang mendukung, juga pendekatan sosial dan psikologis yang benar terhadap penganutnya, meyakinkan mereka bahwa hal ini(industrialisasi) tidak berbahaya  tetapi adalah sesuatu suatu cara untuk membuka harta karun yang dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka. (itu hanya salah satu dari banyak cara)

Tentu semua kita mengenal Pulau Bali.
Bali adalah salah satu contoh kecil suksesnya suku&budaya menjadi industri yang menguntungkan untuk semua pihak. Siapa yg tidak kenal Bali dengan sebutan pulau Dewata .Disisi lain penduduk bali sedikit banyak menjadi open mind(wawasannya bertambah) sebab banyaknya interaksi turis/wisatawan domestik maupun mancanegara yang datang.

Daerah2 lain tentu tak kalah dengan Bali, sebut saja Tanah Batak, Tanah Toraja, Sulawesi, Papua,etc yang menyimpan keberagaman suku&budaya yang belum terjamah secara tepat dan benar..

Seandainya saja keberagaman suku&budaya di daerah2 tersebut bisa di optimalkan tentulah negri ini akan menjadi jauh lebih baik. Kita tdk  harus lagi membangun industri2 manufaktur atau sejenisnya yang sarat polusi dan pendindasan buruh. cukup dengan optimalisasi suku&budaya kita bisa diakui dimata dunia dan mendatangkan devisa.

Pada akhirnya, bicara tentang keberagaman suku&budaya tidaklah hanya terkurung pada, apakah mendatangkan untung atau tidak, tetapi lebih dalam dari itu, keberagaman suku&budaya adalah kekayaan yg sudah jelas2 didepan mata tetapi tidak di sadari, dan semua itu memerlukan kesadaran yang sangat untuk mampu me-optimalkannya yg  tentu saja sebesar-besarnya untuk kepentingan Penduduk Republik ini.

Seorang Negarawan pernah berkata :” Bila sebuah perusahaan memiliki pangsa pasar & Resource yg sangat besar, tapi tidak bisa sejahtera dan maju pesat ..manajerial perlu dirombak abis, begitu pula denga sebuah negara,yang Resource sangat besar tapi tidak bisa maju malah mundur,maka perlu ada perombakan besar juga”..

03
Feb
10

Pluralisma aLa Gus Dur..

.. DaLam konteks demokrasi, Ideologi/Aliran/Paham apapun itu punya hak kontestans, tak perduli sesalah apapun anggapan terhadap hal itu. Dari pada antipati sejak awal dengan cara memberangus dan menghantamnya, jauh lebih baik memberikan kesempatan kepadanya tuk berkontestasi, Toh..klo paham/aliran/ideologi itu dianggap tidak menjadi solusi,bahkan merugikan,tentu akan di tinggalkan,sementara itu disisi lain sang pemegang ideologi/paham/aliran akan merasa kalah secara terhormat.

DaLam satu contoh,terjadi pembakaran/penindasan terhadap buku2/pemikiran2 yang dianggap sebagai musuh dan dinyatakan secara terang2an sebagai lawan,,Lantas bagaimana kita benar2 tahu bahwa itu adalah benar2 lawan bila tidak pernah membacanya/mempelajarinya.

.

Bisa2 jadi sperti anak kecil yang tidak pernah dikenalkan jelas tentang seekor macan,saat ketemu kucing dia lari sebab dia sangka itu adalah macan…

Sang Pemilik Alam semesta telah memberikan Filosofi terhadap perbedaan dalam konteks yang sangat common/umuml…seperti memberikan Hujan kepada semua mahluk,,apakah yang taat padaNya atau pun tidak,bahkan yang percaya atau tidak,,memberikan sinar Matahari yang menerangi kepada semuanya..dan kesempatan kepada semua..

Semoga saja pemikiran2 terhadap perbedaan/keberagaaman…semakian hari2 semakin bijaksana dalam menyikapinya..
termia kasih Gus,,tuk sumbang idemu yang menyegarkan..

..::Maju aja susah,apalagi Mundur:: Gitu aj koq repo.. hahaha…(Still Long For You Gus,,GOodbye)

06
Feb
09

Sarjana Indonesia, Pecundang di Rumah Sendiri

Sarjana Indonesia, Pecundang di Rumah Sendiri                                                            Oleh : Bintang Ariya Narendra KabarIndonesia –

Program pendidikan S1 (Strata 1) itu hanya ada di Indonesia. Kurikulum program ini memiliki beban minimal 140SKS (satuan kredit semester). Kurikulum Nasional Perguruan Tinggi, 1994 yang pada umumnya terbagi dalam 8 semester dengan waktu studi 4 tahun. Namun pada kenyataannya banyak mahasiswa S1 tidak dapat menyelesaikan studi dalam 4 tahun. terutama bagi mahasiswa jurusan teknik. Molornya waktu studi ini biasanya terjadi di tahun-tahun terakhir ketika mahasiswa harus menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi, terutama yang berbasis penelitian lapangan atau penelitian laboratorium. Waktu studi total bagi mahasiswa jurusan teknik umumnya menjadi 4 1/2 sampai 5 tahun.

Program pendidikan S1 tidak dikenal di negara lain. Di Malaysia, Singapura, Filiphine, Thailand, India, Australia, bahkan Amerika Serikat dan Inggris. Program pendidikan tinggi terbagi menjadi dua, yaitu program undergraduate (bachelor degree) dan program graduate (master degree). Undergraduate program umumnya memiliki beban studi 120 SKS, sedangkan master program 150 SKS. Untuk menyelesaikan undergraduate program biasanya diperlukan waktu studi sekitar 3 tahun, dan jika diteruskan ke tingkat master, diperlukan waktu studi 2 tahun lagi, sehingga untuk meraih master degree diperlukan waktu studi sekitar 5 tahun. Jika program S1 kita bandingkan dengan kedua program di atas, tampak bahwa program S1 itu banci dan tanggung. Ia mempunyai beban lebih besar dari program undergraduate tetapi lebih kecil dari program graduate (master).

“Kebancian” program S1 kita ini pada kehidupan keseharian ternyata lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Kerugian lebih dirasakan terutama oleh sarjana S1 yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional, baik yang berdomisili di dalam negeri maupun di luar negeri. Perusahaan-perusahaan semacam ini menerapkan standar atau kualifikasi internasional dalam merekrut karyawannya. Dan jika itu menyangkut tenaga kerja berkualifikasi lulusan perguruan tinggi, mereka hanya mengenal kualifikasi undergraduate (bachelor) degree dan graduate (master) degree. Mereka tidak mengenal S1 degree. Jika pun terpaksa harus menerima mereka yang berkualifikasi S1, perusahaan internasional ini akan menyamakan kualifikasi S1 bukannya setara dengan master degree melainkan dengan undergraduate (bachelor) degree (menyedihkan sekali). Ini berarti kelebihan beban studi sekitar 20 SKS, atau dari segi waktu studi sekitar 1 sampai 2 tahun, tidak mendapatkan penghargaan/kompensasi sebagaimana mestinya.

Gaji, pendapatan atau peringkat lulusan S1 yang bermasa studi 4 sampai 5 tahun di perusahaan semacam ini disamakan dengan lulusan undergraduate yang bermasa studi 3 tahun. Berarti lulusan S1 kita rugi dari segi waktu, biaya dan tenaga. Kerugian jenis lainnya juga dialami oleh para lulusan S1 yang memiliki kesempatan untuk meneruskan studi ke program master di luar negeri. Perguruan tinggi negara tujuan biasanya mengharuskan lulusan S1 Indonesia untuk tetap mengambil beban studi sebanyak 30 sks seperti halnya lulusan undergraduate setempat. Jika program S1 kita diakui oleh mereka, maka seharusnya kita tinggal menempuh 20 sks saja untuk menyelesaikan program graduate (master). Untuk menyelesaikan masternya, lulusan S1 kita pada akhirnya harus menanggung beban studi sekitar 170 SKS (140 SKS beban S1 + 30 SKS beban program graduate (master).

Oleh karenanya tidak mengherankan jika mahasiswa-mahasiswa program master dari Indonesia umumnya lebih tua dari mahasiswa setempat. Dari sudut pengembangan prestasi dan karier jelas yang lebih muda lebih banyak memiliki peluang daripada yang lebih tua. Ini berarti tenaga-tenaga berkualifikasi master degree Indonesia kurang kompetitif dari segi umur dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang sama-sama berkualifikasi master dari negara-negara lain.

Kerugian lulusan S1 tidak hanya terjadi di luar negeri saja, melainkan juga di dalam negeri. Kadang kala kita masih dapat menerima jika perguruan tinggi di luar negeri tidak mengakui kualifikasi lulusan S1 yang berbeban studi 140 SKS karena berkaitan dengan faktor “pride” atau prestise perguruan tinggi atau negara bersangkutan. Namun bagaimana jika perguruan tinggi dalam negeri yang meluluskan S1-nya sendiri ternyata juga tetap mengharuskan tambahan beban studi sebanyak 30 sampai 36 SKS untuk meraih gelar magister atau S2? Bukankah ini ironis? Bukankah seharusnya, apabila mengacu ke program magister internasional yang berbeban studi sekitar 150-an SKS, lulusan S1 kita tinggal menempuh 10-15 SKS lagi untuk menyelesaikan program S2 dalam negeri?

Sampai saat ini rasanya belum terlihat adanya usaha dari pihak-pihak yang berkompeten untuk mencermati masalah kerugian yang diakibatkan oleh “kebancian” program S1 kita. Kerugian waktu yang dialami oleh para mahasiswa dan lulusan S1 kita itu jelas memiliki korelasi dengan besarnya biaya, tenaga, dan energi yang dikeluarkan. Ternyata juga jika dihitung secara sepintas, memunculkan jumlah biaya yang tidak sedikit. Jika perkiraan total biaya kuliah per-mahasiswa per-tahun adalah Rp. 10 juta (angka ini berasal dari perkiraan jumlah biaya SPP per tahun sekitar Rp. 4 juta beserta biaya hidup setahun sekitar Rp 6 juta) maka kerugian waktu 2 tahun per-mahasiswa adalah sekitar Rp. 20 juta. Dan jika angka ini dikalikan dengan puluhan juta mahasiswa S1 di seluruh Indonesia, maka angka biaya (kerugian) yang muncul akan sangat mencengangkan, besarnya bisa sampai puluhan triliun rupiah.

Selain aspek kerugian biaya di atas, aspek kerugian waktu sekitar 1 sampai 2 tahun bagi mahasiswa S1 di era informasi terasa semakin signifikan, karena hal yang bisa dilakukan dan dicapai dalam waktu 2 tahun menjadi lebih mudah dibandingkan di era-era sebelumnya. Jarak dan ruang semakin dekat berkat kemajuan teknologi informasi seperti internet, email, dan telepon seluler. Jika program S1 kita berwaktu studi 3 tahun, maka lulusan S1 kita dapat menyingkat waktu 1 sampai 2 tahun. Selama waktu 1 sampai 2 tahun itu, banyak hal dapat dilakukan oleh para lulusan S1.

Dengan menggunakan kemajuan teknologi informasi yang efisien, mereka dapat dengan cepat mengakses berbagai informasi yang berkaitan dengan pengembangan studi dan karier. Lulusan S1 akan berumur sekitar 22 tahun, masih muda, masih cukup banyak waktu untuk melakukan adjustment (penyesuaian) dalam mencari lapangan pekerjaan ataupun beralih profesi sesuai dengan tuntutan jaman. Jika program S1 tetap bertahan dengan masa studi 4 sampai 5 tahun, maka waktu penyesuaian itu menjadi sempit, sehingga dimungkinkan akan lebih banyak lulusan S1 menganggur. Dipertahankannya program S1 hingga saat ini menunjukkan bahwa kita irrasional, di satu sisi menyadari akan adanya era informasi, di sisi lain seolah-olah tidak peduli dengan aspek pentingnya efisiensi. Tahun 2010, tahun pasar bebas global, sudah tinggal setahun lagi. Satu-satunya cara untuk dapat survive di era tersebut, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, adalah dengan memiliki daya saing yang tinggi.

Program Undergraduate dan keuntungannya Diterapkannya undergraduate program dan graduate (master) program di manca negara menunjukkan, bahwa program studi ini lebih mantap dan lebih “internationally-accepted”. Jika program studi S1 dan S2 menjadi program studi yang setara dengan undergraduate program dan graduate (master) program di manca negara, rasanya banyak keuntungan yang akan diperoleh, antara lain: • Lulusan S1 kita akan memiliki daya-saing yang lebih berimbang terutama dari segi umur karena beban dan waktu studinya sama dengan lulusan undergraduate dari manca negara. • Tidak ada kerugian waktu bagi lulusan S1 yang ingin meneruskan studinya ke jenjang graduate (master) program, baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri • Program S2 dalam negeri menjadi lebih menarik bagi lulusan S1 (undergraduate) yang ingin meneruskan studinya karena dia masih cukup muda untuk meneruskan studinya ke S2 yang berwaktu studi 2 tahun. Yang terjadi saat ini adalah banyak program magister, (kecuali program magister manajemen), di dalam negeri yang tidak laku karena kekurangan peminat. Hal ini antara lain disebabkan lulusan S1 sudah merasa “jenuh” belajar. Jika ingin meneruskan ke S2, mereka kuatir umurnya sudah tidak kompetitif lagi (sekitar 27-28 tahun). Padahal banyak perusahaan dan instansi yang mempersyaratkan batas umur penerimaan. • Lulusan program magister akan jauh lebih banyak karena waktu studi lebih singkat, sehingga biayanya lebih murah. Jika lulusan magister semakin banyak maka benchmark kualitas SDM kita semakin meningkat, tidak lagi level S1 melainkan level S2 atau level magister, mendekati kualitas SDM di negara-negara yang lebih maju.

Sedangkan kendala yang akan muncul jika kita mengubah program S1 menjadi program seperti undergraduate program dan graduate (master) program, antara lain: • Perlu diadakan peraturan penyesuaian tentang hubungan antara lulusan perguruan tinggi yang tidak lagi mengacu pada kriteria lulusan S1 lama (140 SKS) melainkan dengan lulusan S1 baru yang setara dengan undergraduate (bachelor) degree.

Seperti telah disinggung di atas, bahwa dengan semakin dekatnya waktu pelaksanaan pasar bebas di tahun 2010, kita dituntut mampu berkompetisi dengan SDM dari negara mana pun. Jika program S1 kita ini tetap kita pertahankan, maka pada saat implementasi AFTA tiba, kita dapat mengharapkan munculnya suatu gambaran menyedihkan seperti berikut ini:

Ketika lulusan undergraduate manca negara “menyerbu” masuk ke Indonesia dan diterima di perusahaan-perusahaan multinasional yang kemungkinan semakin banyak jumlahnya, teman-teman sebayanya di Indonesia yang kuliah S1 pada saat yang sama masih nongkrong di kampus menyelesaikan studinya 1 hingga 2 tahun lagi. Ketika para S1-wan selesai kuliah, teman-teman asing yang hanya berbekal undergraduate degree itu telah memiliki pengalaman kerja 1 sampai 2 tahun. Gaji dan pangkatnya tentu lebih tinggi dibandingkan debutan S1 Indonesia yang baru saja diterima bekerja. Titik awal pekerjaan antara lulusan S1 Indonesia dan undergraduate manca negara sama, karena perusahaan multinasional itu tidak mengakui kualifikasi S1. Lulusan S1 kita kalah bersaing, dan menjadi pecundang di “rumahnya” sendiri.

Akankah kita menutup mata terhadap terjadinya bencana inefisiensi sistem pendidikan tinggi kita ini?(*)

24
May
08

hmmm,Kuliah MIS di TI-UI?

  • Pada Semester keempat, salah satu mata kuliah yang menarik didalam kuliah ekstensi teknik indutri adalah Menejemen Informasi system (MIS) dengan pengajar yang sama dengan matakuliah Ekonomi Teknik yaitu Pak Dahyar, merupakan suatu eksotik tersendiri dalam metode pengajarannya. Saya rasa dosen ini merupakan dosen yang cukup eksentrik, energik, saya pikir tipe pengajaran seperti ini bagus u/ mengubah suatu pola pikir lama yang sudah mengakar pada otak para mahasiswa, acap kali sang dosen memberikan pernyataan-pernyataan yang terkesan kontroversial dari kehidupan ideal yang ada di benak mahasiswa, mungkin beliau berpikir sudah terlalu lama orang-orang muda terbelenggu dengan pikiran yang sempit dan kaku. (sehingga harus mulai berpikir revolusioner dan bertanggung jawab).
    Mata kuliah ini selalu di hiasi oleh banyak tugas-tugas, berikut daftarnya

Tugas-tugas yang diberikan antar lain:

  • Knowledge Menejemen. Pada topik ini kita diminta mencari perusahaan yang telah sukses menerapkan Knowledge Management, Knowledge Management memampukan perusahaan u/ bisa membuat deskripsi tertulis tentang segala hal yang selama ini lisan, tentunya dalam koridor Continues Improvement, seperti menentukan job deskripsi tiap – tiap karyawan, sehingga karyawan yang baru mengerti apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan, menuangkan segala ide dan strategy ke dalam bentuk tertulis, sehingga saat seorang karyawan inti keluar , tak susah bagi perusahaan u/ mengkader karyawan pengganntinya. Dan masih banyak lagi.

  • Elektronik Data Interchange. Pencarian dan aplikasi tetang Eletronik Data Interchange (EDI), dengan penggunaan metode ini pada perusahaan diharapkan penyimpanan (pengarsipan), pemilihan data dan pertukaran data antar perusahaan dapat berlangsung cepat, efektif dan efisien.

  • E-Commerce. Pencarian dan pembuatan serta pengaplikasian Elektronik Commerce ( e-commerce) dan perusahan yang telah melakukan penjualan produknya dengan metode ini.

  • Barcode. Mencari tahu cara kerja sistem Barcode, dengan mencari tahu apa itu barcode dan pengaplikasian pada produk. Dan ternyata semua produk itu mempunyai barcode tersendiri yang berbada satu sama lain (unik) dan ada badan standard barcode yang mengatur peggunaan barcode secara public. Pembuatan dan pengalikasian barcode juga sudah makin berkembang bukan hanya untuk produk, saja tetapi di salah satu Negara maju barcode sudah dijadikan identitas seseorang yang di kenal dengan teknologi RF-ID , sehingga semakin spesifik lagi dalam penetrasi dan pendataan penduduk.

  • Blogging. Dengan pembuatan blog pada masing – masing mahasiswanya, diharapkan kita mempunyai web tersendiri yang dapat di akses oleh setiap orang. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kita dibiasakan untuk menulis untuk peng-update-an blog kita itu. Dengan memberikan segala informasi yang kita ketahui dengan sisitem online maka beberapa tugas yang selama ini dikerjakan telah terangkum dengan sendirinya antara lain Knowledge Menejemen, Elektronik Data Interchange, E-commerce. Pengetahuan yang dipelajari dan selalu diimbangi dengan pengaplikasian berjalan bertautan saling mendukung dan konkrit dalam realisasinya. Dalam penggunaan blog mahasiswa menggunkan banyak variasi hosting blog, seperti wordpress,blogspot, multiply, etc. Di blog ini mahasiswa juga banyak menuangkan pikiran dan pandangan dalam tulisan – tulisan. Seperti saya sendiri (hehe)

  • 09
    May
    08

    Tiga Tipe Orang dalam Organisasi


    Oleh : Teguh Sarwono

    09-Mei-2008, 12:52:05 WIB – [www.kabarindonesia.com]

    KabarIndonesia – Salah satu realitas hidup manusia sebagai makhluk sosial adalah adanya organisasi. Organisasi dapat berupa sebuah perusahaan, sekolah, organisasi sosial kemasyarakatan dan banyak lagi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa organisasai merupakan kesatuan atau susunan yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) di dalam perkumpulan untuk suatu tujuan tertentu; suatu kelompok kerja sama antara orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Dari pengertian tersebut diatas, dapat dilihat beberapa unsur yang membentuk suatu organisasi.

    Unsur pertama adalah orang. Orang dalam organisasi menjadi unsur pembentuk organisasi yang memiliki peranan sangat penting. Orang-orang ini dengan segala potensi dan perbedaan latar belakang mewujudkan suatu sinergi untuk membuat sebuah organisasi dapat berjalan dan hidup.

    Unsur yang kedua adalah adanya kesatuan. Kesatuan yang dimaksud merupakan kesatuan ide, gagasan, cita-cita atau tujuan yang menjadi motivasi dasar bagi anggota organisasi untuk berkumpul dan bekerja sama. Kesatuan menjadi sangat penting dalam sebuah organisasi karena tanpa kesatuan organsiasi tidak akan terwujud.

    Unsur ketiga adalah tujuan. Tujuan merupakan sesuatu yang hendak dicapai oleh orang-orang yang ada di dalam organisasi. Tujuan menjadi unsur pemersatu yang menjadi titik tolak serta arah gerak organisasi.

    Unsur ke empat adalah adanya kerja sama. Unsur menjadi salah satu ciri khas dari sebuah organisasi. Unsur yang ke lima adalah adanya suatu sistem, aturan, pola atau tata hidup bersama yang disepakati untuk dilaksanakan oleh setiap orang yang menjadi bagian dari organisasi. Hal ini menandakan adanya suatu pembagian kerja yang tetap, yang mencerminkan peran, tugas dan tanggung jawab dari setiap orang dalam organisasi.

    Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan panjang lebar mengenai organisasi, melainkan lebih pada sebuah refleksi untuk melihat peran dan tindakan seseorang dalam sebuah organisasi. Maka titik berat tulisan ini adalah pada unsur orang yang membentuk sebuah organisasi. Secara khusus refleksi ini akan mengajak kita melihat orang macam apakah kita dalam organisasi yang kita ikuti; bagaimana sikap dan tindakan kita dan apa pengaruhnya terhadap organisasi.

    Merujuk pada apa yang pernah dikatakan oleh direktur harian umum Kedaulatan Rakyat dalam sebuah seminar beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah organisasi paling tidak ditemukan tiga tipe orang. Pengelompokan itu didasarkan pada motivasi yang mendasari sikap dan tindakannya dalam sebuah organisasi. Masing-masing tipe memiliki karakteristik dan pengaruh yang besar terhadap organisasi. Setiap tipe memberikan gambaran mengenai orientasi dan motivasi dasar seseorang dalam melakukan aktifitas dalam organisasi. Tipe-tipe tersebut berkaitan dengan “makan”. Yang dimaksud tentu saja bukan bagaimana cara makan seseorang dalam organisasi, tetapi lebih pada bagaimana sikap dan tindakan seseorang dalam organisasi..

    Tipe yang pertama adalah “orang yang mencari makan di dalam organisasi”. Bagi orang semacam ini, yang penting bagi dirinya adalah bagaimana ia mendapatkan sesuatu dari organisasi sehingga ia dapat memenuhi kebutuhan hidup atau keinginannya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa motivasi utama orang semacam ini dalam melaksanakan aktivitas dalam organisasi adalah untuk mendapatkan upah. Upah menjadi motivasi utama dan orientasinya dalam ia bekerja melaksanakan tugas dan tanggungjawab. Ia tidak perlu berpikir apakah tugas dan tanggungjawabnya terselesaikan dengan baik atau tidak, karena bagi dia yang penting adalah upah yang ia dapatkan dari organisasi. Orang semacam ini tidak banyak memberi kontribusi bagi perkembangan dan kemajuan organisasi. Ia tidak pernah mau berpikir tentang bagaimana organisasi mendapatkan sarana maupun fasilitas untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Ia lebih bersikap reaktif, bahkan cenderung pasif, tidak memiliki inisiatif untuk melakukan suatu tindakan apalagi penemuan-penemuan langkah atau kebijakan yang mendukung perkembangan organisasi. Berdasarkan pengamatan umum, dalam sebuah organisasi hampir delapan puluh persen orangnya termasuk dalam kelompok ini.

    Tipe kedua adalah “orang yang mencarikan makan untuk organisasi”. Bagi orang semacam ini, segala bentuk tindakannya dalam organisasi hanya ia arahkan demi perkembangan dan kemajuan organisasi. Ia selalu berusaha menemukan langkah-langkah baru yang efektif dan efisien supaya organisasinya sungguh maju dan berkembang. Ia selalu bersikap proaktif, inovatif, kreatif, kritis sekaligus agresif. Ia tidak pernah mau diam dan berhenti berusaha asalkan demi kemajuan organisasi. Sebuah organisasi akan sangat beruntung jika memiliki paling tidak lima belas persen orang semacam ini di dalamnya, karena mereka sungguh menjadi motor penggerak dan pengarah hidup organisasi, yang mampu mempengaruhi delapan puluh persen orang lainnya dalam organisasi. Namun sayangnya tidak semua organisasi memiliki orang-orang dengan kualitas militan ini.

    Tipe ketiga adalah “orang yang memakan organisasi”. Celakalah sebuah organisasi jika orang-orang semacam ini ada di dalamnya. Karena meskipun jumlahnya sangat sedikit, lima persen misalnya, orang semacam ini akan menjadi parasit yang sedikit demi sedikit menggerogoti organisasi, mengeroposinya dari dalam dan pelan-pelan meruntuhkannya. Bagi orang semacam ini, yang menjadi semboyan adalah “apa yang dapat saya ambil dari organisasi, bagaimana saya mendapatkan keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya dari organisasi”. Ia sama sekali tidak berpikir soal kerugian yang dialami organisasi akibat sikap dan tindakannya. Mereka inilah yang tergolong dalam kelompok koruptor – dan di dalam Negara kita tercinta ini, kelompok ini menjadi penyebab keterpurukan yang tiada berakhir.

    Yang menjadi pemikiran selanjutnya adalah, bagaimana organisasi harus mengambil langkah berkaitan dengan orang-orang yang ada di dalamnya? Berkaitan dengan ini, maka segala bentuk pembinaan mental-spiritual menjadi sangatlah penting. Hal itu dapat dilakukan dengan berbagai macam seminar dan lokakarya atau juga dengan bentuk-bentuk kebijakan yang seefektif mungkin membangun sikap mental orang-orang dalam organisasi.

    Perhatian dan penghargaan dalam segala macam bentuknya diharapkan dapat membantu orang-orang dalam organisasi untuk memiliki ‘sense of belonging’, yang cukup besar sehingga orang dalam organisasi tidak melulu berpikir mengenai kepentingannya melainkan kepentingan organisasi.

    Organisasi memiliki tugas dan tanggungjawab untuk menumbuhkan dan menguatkan kesadaran dalam diri setiap anggotanya supaya mereka memiliki semboyan “apa dan sebanyak apa yang dapat saya berikan untuk organisasi’, bukan sebaliknya, ‘apa dan seberapa banyak yang dapat saya ambil dari organisasi’.

    Terakhir, yang menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing, adalah, “orang macam apakah saya dalam organisasi yang saya ikuti?”.

    Selamat merenung!

    Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
    Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
    Berita besar hari ini…!!! Kunjungi segera:
    http://www.kabarindonesia.com